derita kolektif

Malam mengombang-ambingkan raga, seperti waktu yang sudah-sudah, seperti sepanjang hidup lamanya. Kekalutan di kepala mengaburkan jalan-jalan dan kompleks pertokoan yang kulewati, hingga bus yang kunaiki berhenti di sebuah persimpangan. Setengah melamun, aku turun dan berjalan sebentar sambil menahan gigil udara. Bangku di sisi trotoar menawarkan tempat beristirahat, seolah memahami: jiwaku letih.

Empat tahun berlalu semenjak aku menetap di kota kecil ini tetapi semuanya masih terasa asing. Walau sebenarnya, aku memang tak pernah bersungguh-sungguh mengenali apa pun, termasuk diri sendiri. Tempat ini terasa familier hanya karena acap kali kulihat di brosur dan iklan pariwisata untuk menarik turis-turis lokal maupun mancanegara. Kini aku melihat sekelompok dewasa muda berpakaian trendi yang sedang mengabadikan gambar, tertawa-tawa. Sepasang kekasih duduk bersisian di bangku seberang jalan, menjadi sandaran bagi satu sama lainnya. Di kejauhan, dari deretan warung-warung lalapan, terdengar bunyi wajan yang dipukul-pukul, lalu timbul gurih aroma bebek goreng di udara. Mendadak, aku jadi begitu sadar dengan apa yang ada di sekelilingku.

Mengapa manusia selalu begitu terluka?

Aku takkan pernah tahu, barangkali salah satu dari dewasa muda yang sibuk berfoto itu sedang depresi. Barangkali ketika ia pulang, yang ditemuinya adalah ibu yang teramat perfeksionis dan ayah yang memproyeksikan cita-cita yang gagal dengan memintanya berkuliah di jurusan hukum tanpa pernah mendengar keinginan hatinya menjadi seorang pianis. Aku takkan pernah tahu, barangkali sepasang kekasih di bangku seberang jalan itu berada dalam dinamika hubungan yang penuh manipulasi dan membuat salah satunya terkadang mempertanyakan kewarasan diri. Aku takkan pernah tahu, barangkali wanita paruh baya di warung lalapan itu bercerai dari suaminya yang pejudi dan harus menghidupi keempat anaknya.

Aku takkan pernah tahu, tetapi manusia selalu begitu terluka.

Mobil-mobil melintas di jalanan aspal, menimbulkan suara gerisik akibat sisa-sisa hujan. Aku bangkit dan memutuskan untuk pulang. Satu-satunya cara untuk mengurangi penderitaan kolektif manusia adalah dengan setidaknya melenyapkan penderitaanku sendiri. Yang kini jadi pertimbangan adalah, apakah sebaiknya esok pagi aku menemui psikolog itu atau bunuh diri?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s